8.12.2009

Kesalehan Sosial by: Imel Putri Dewita

Perilaku orang beragama justru buas terhadap sesamanya. Norma kesopanan telah pudar dalam sanubari bangsa ini. Seolah-olah kita telah kehilangan jati diri sebagai orang beragama, sebagai bangsa beragama, sebagai makhluk beriman. Karakter keimanan sebagai suatu substansi yang harus diraih, gagal kita bangun. Keimanan bukan untuk menyayangi makhluk lainnya, tetapi justru untuk membunuh, dengan segala macam cara.
Adakah yang salah dalam cara kita beragama, berbangsa, berperikehidupan? Mengapa bangsa kita hidup dalam ketidakberadaban karena membiarkan kekerasan demi kekerasan terus berlangsung tanpa ada usaha yang kuat untuk menghentikan praktik kekerasan itu sendiri? Sebagai bangsa yang beragama, bukan atheis, mengapa orientasi kehidupan kita hanya mampu mencetak manusia yang kerdil, haus kekuasaan, harta dan kemuliaan belaka?
Sebetulnya kita sedih menyimpulkan statement ini. Tapi kita tidak bisa mengelak bahwa sampai sejauh ini dalam kehidupan kebangsaan kita, kita sampai pada kesimpulan bahwa kehidupan keberagamaan kita telah gagal membangun sebuah karakter keimanan. Seolah-olah kesucian hanya dilihat di sekitar tempat ibadat, di luar itu orang boleh melakukan praktik yang berlawanan dengan keimanan.
Praktik keberagamaan hanya menampilkan wajah kontras antara kesucian individual dan kesalehan sosial. Kesucian individual ini tak kunjung berubah menjadi kesalehan sosial. Realitas agama hanya terjebak pada dimensi kesalehan pribadi yang berorientasi pada kesucian perorangan. Ukurannya hanya sekadar persembahan belaka, tetapi tidak mampu memperbarui perilaku sosial. Hal ini terjadi karena agama tidak mampu keluar dari persoalan identitas (logo) seperti di atas. Pemeluk agama masih terjebak pada persoalan kuantitas keimanan, bukan pada kualitas keimanannya. Agama hanya dihayati sekadar ritual belaka, tetapi dirinya terasing terhadap realitas kehidupan kemasyarakatan.
Agama jauh dari realitas kehidupan kemasyarakatan. Dia cenderung memikirkan dirinya sendiri dalam lingkup dogma, aturan dan legalitas. Dia tak mampu melihat realitas masyarakat yang mengalami penindasan, peme- rkosaan hak, dan penderitaan kaum tertindas yang termarginalisasikan oleh sistem pembangunan.
Agama gagal mempraktikkan iman yang memihak nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kesejahteraan. Mengapa agama bisa terasing dari realitas? Sebab hampir 40-an tahun agama dijadikan subordinasi politik Orba. Agama hanya dimengerti sebagai ritus belaka dan berorientasi pada dogma an sich. Dengan demikian pemeluknya pun sekadar beragama formal dan fanatis. Ini membuat pemeluk agama menjadi picik dan mudah dijadikan potensi konflik.
B. Pengertian Kesalehan
Islam bukan agama individual. Ajaran yang dibawa nabi Muhammad, memang dirancang untuk rahmat bagi semesta alam. Orang yang paling saleh pun demikian tak punya monopoli atas agama itu.
Banyak ditemukan ditengah-tengah masyarakat ada sekelompok orang yang tekun beribadah, bahkan berkali-kali haji, namun kelihatannya tidak memiliki respon positif terhadap kepentingan masyarakat umum, tak bergerak melihat saudara-saudaranya yang lemah tertindas, misalnya. Seolah-olah islam hanya mengajarkan orang untuk melakukan hal-hal yang dianggapnya menjadi hak Allah belaka. Namun sebaliknya sering juga dijumpai orang-orang Islam yang sangat peduli terhadap masalah kemaslahatan ummat, sangat memperhatikan hak sesamanya, suka membantu dan memiliki sikap sosial yang sangat baik akan tetapi kelihatan begitu mengabaikan “Ibadah Pribadinya” (hablun Minallah).
Berangkat dari fenomena diatas dapat dipahami bahwa hakekat dari sebuah kesalehan adalah suatu tindakan yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain, serta dilakukan atas kesadaran ketundukan pada ajaran Tuhan. Tindakan saleh sering disebut dalam kosa kata “amal saleh”, merupakan hasil keberimanan, pernyataan atau produk dari iman (percaya kepada Tuhan/Tauhid) seseorang dilakukan secara sadar.
Untuk selalu berada dalam komitmen kesalehan, perlu kiranya untuk mendudukkan konsekuensi Tauhid dalam kehidupan. Hal ini berawal dari, Pertama: Selaku orang yang mengakui ada suatu kekuatan besar yang berada diluar diri manusia (Allah), pertama-tama harus mengingkari apapun selain dari pada Allah. Kedua: setelah seorang yang bertauhid meniadakan apa-apa yang selain Allah. Kemudian ia berkeyakinan secara penuh kepada Allah. Maka dalam tauhid tingkat dua ini meyakini bahwa kebenaran hanyalah dari Allah. Ketiga: bahwa manusia Muslim mempunyai proklamasai atau deklarasi kehidupan yang dituntutkan al-quran sendiri, yaitu dengan kata qul, katakanlah wahai Muhammad, wahai pemeluk-pemeluk agama Muhammad. Jadi kita semua disuruh allah untuk selalu mendeklarasikan diri kita dengan kat-kata qul inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi Rabbil ‘alamin, la syarikalahu wabidzalika umirtu wa ana awwalul Muslimin. Deklarasi ini berlaku sepanjang hayatnya
Orang yang sudah mempunyai komitmen utuh kpada Tuhan, apalagi sudah mendeklarasikan kehidupan seperti itu, maka akan melihat dunia ini menjadi satu panggung kehidupan yang jelas, bening, mudah, tidak ruwet, karena kacamata tauhid. Keempat: setelah mendeklarasikan kalimah Tauhid, selanjutnya berusaha untuk menerjemahkan keyakinan menjadi tindakan konkret, suatu sikap budaya untuk mengembangkan amal saleh. Jadi iman dan amal saleh selalu bergandengan, hal ini bisa dilihat dalam al-Quran banyak sekali ayat yang selalu menggandeng antara alladzinaamanu dengan wa’amilush shalihat. Seolah-olah hampa dan kosong iman seseorang kalau tidak ada amal saleh yang menyertainya.
Karena itu Allah telah memberikan pengandaian yang sangat indah dalam sebuah ayat yang
Artinya: Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.(AL-HUDA; 259-260)

Manifestasi tauhid, deklarasi kehidupan dari tingkat keempat ini adalah sikap budaya, sikap mental, dan kehidupan untuk menyebar amal saleh dalam setiap kesempatan. Bahkan selaku orang yang beriman/bertauhid melihat arena kehidupan ini adalah arena amal saleh. Amal saleh itu ada yang berlevel pribadi, kolektif, masyarakat, bahkan tingkat nasional.
Tingkat kelima: orang yang bertauhid mengambil kriteria atau ukuran baik dan buruk, ukuran yang terpuji dan tercela atau terkutuk, kembali kepada tuntunan Ilahi.
Terdapat banyak ungkapan yang mengatakan bahwa kesalehan terdiri dari dua jenis yaitu kesalehan pribadi/ ritual dan kesalehan sosial. Antara dua kesalehan tersebut saling keterkaitan. Pertama: Kesalehan pribadi/ritual berkaitan dengan ibadah Mahdhah, yang mengatur hubungan makhluk dengan Sang maha Pencipta. Yang kedua: Berkaitan dengan ibadah Mu’amalah yang mengatur hubungan makhluk Allah SWT dengan makhluk lainnya.

C. Kesalehan Pribadi dan Kesalehan Sosial
Islam adalah agama yang memerdekakan, seluruh amal atau perbuatan yang tidak dilarang agama dan dilandasi dengan niat yang ihklas untuk memperoleh ridha Allah SWT adalah ibadah. Sebaliknya, perintah agama, tetapi dikerjakan bukan karena mendapat Ridha Allah tidak mempunyai nilai ibadah. Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya Al-Quran surat al-Ma’un:
Artinya: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
Al-Quran menyebutkan ada orang yang miskin, kaya, pandai, bodoh dan lain sebagainya. Itu sudah sunnatullah. Akan tetapi hak mereka sama dan tidak boleh ada eksploitasi dan kesenjangan yang menghampiri mereka. Tauhid mengutuk setiap fenomena eksploitasi dan kesenjangan yang makin melebar.
Fenomena ditengah umat dapat disaksikan sebagian besar pekerja (buruh) yang bekerja diperusahaan hidup dibawah garis kemiskinan. Sementara di lapisan yang lain (para elit) hidup dalam serba berkecukupan. Karena memang tidak bisa dipungkiri tujuan didirikan sebuah perusahaan pasti ingin mendapatkan keuntungan dalam jangka panjang atau berkelanjutan. Sebagai sebuah institusi bisnis maka perusahaan akan mencari berbagai cara dan strategi untuk bisa mempertahankan hidupnya. Itu alamiah dan memang sudah seharusnya.
Hal ini juga diperburuk oleh kondisi perusahaan yang mengahalalkan segala cara untuk tetap bisa hidup dan menumpuk keuntungan yang besar. Misalnya dengan cara mencemari lingkungan, menipu konsumen, mengurangi hak karyawan. Dalam jangka panjang sebenarnya praktik seperti ini akan merugikan perusahaan. Sebab akan muncul konflik dengan stakeholder (masyarakat, konsumen, dan pekerja) yang bisa mengancam kelangsungan hidup perusahaan tersebut.
Disamping itu ada hal yang tidak bisa ditolerir. Seperti pengiriman tenaga kerja wanita yang dikirim oleh pemerintah keluar negeri, merupakan contoh perbudakan modren yang canggih bagi orang yang melihat dengan pikiran yang jernih. Kaum wanita dikirim tanpa dilindungi oleh muhrimnya, masuk kerumah seorang majikan tanpa ada perlindungan apa-apa. Kalau dibandingkan dengan perbudakan pada zaman Rasulullah mereka diangkut dengan kereta, onta atau gerobak, tetapi sekarang diangkut memakai pesawat, dengan sistem pembayarannya pun memakai cek dan lain-lain.
Karena itu, prinsip tata kelola yang baik dalam setiap proses produksi dan menjaga serta menghormati stakeholder, sangat penting untuk diperhatikan dan dilaksanakan. Hal itu merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Untuk bisa menjalankan CSR dengan baik, maka setiap bagian dari perusahaan harus terlibat, dari mulai karyawan hingga direksi. Jika itu dilaksanakan dengan baik, maka lingkungan dan masyarakat tidak terganggu, konsumen dan pekerja mendapatkan hak-haknya dengan baik. Pada akhirnya antara lapisan pekerja dan lapisan elit tidak lagi berada dalam terzalimi dan menzalimi serta tertindas dan yang menindas. Sebab perusahaan perlu bertanggungjawab agar masa mendatang tetap ada manusia di bumi sehingga dunia harus tetap manusiawi untuk menjamin keberlangsungan kini dan hari esok.
Hal tersebut juga tidak sesuai dengan ajaran Islam yang selalu menjunjung tinggi keadilan dan menyalahi konsep fitrah selaku manusia yang memiliki akal dan hati. Lebih jauh dari itu diharapkan agama dalam pengertian kesadaran dan kelembagaan lebih menunjukkan komitmen moralitasnya pada masalah ketimpangan sosial. Kontribusinya harus merekonseptualisasikan beberapa pesan transedensinya yang lebih substansial. Al-Quran juga sangat memperhatikan nasib kaum dhu’afa’. Hal ini dijelaskan dalam surat al-Qashas ayat 5 yakni:
Artinya: Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi.

Nabi Muhammad sebagai suri tauladan yang baik, memiliki sikap kepemimpinan dan seluruh sikap hidupnya sangat merakyat. Dan sikap yang Islami itu sesungguhnya antifeodalisme. Ini jelas dalam surat al-Jum’ah ayat 2 yakni :
Artinya: Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Kehebatan beliau adalah memang beliau yang dilahirkan ditengah-tengah ummiyyin, umat yang banyak, massa yang banyak. Kemudian beliau memberikan bimbingan, membacakan ayat-ayat Illahi, mengeluarkan mereka dari keterbelakangan ke kemajuan sekalipun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan.
Nabi Muhammad telah telah banyak memberikan contoh bagaimana seseorang harus mengeluarkan zakat, bersedekah dan lain sebagainya, itu semua memiliki dasar dan tujuan tertentu. Sebagai umatnya tidak diperbolehkan meragukan akan ajarannya yang memperlihatkan kedua aspek kesalehan tersebut sekaligus. Dengan kata lain, zakat bagi kaum Muslim merupakan aplikasi Taqwa yaitu kepatuhan untuk berderma di jalan Allah dengan Ikhlas hanya mengharapakan ridha dari Allah, inilah sebenarnya kesalehan total yang mencakup kesalehan ritual dan kesalehan sosial.
Fazlur Rahman seorang intelektual muslim pernah menyatakan, seandainya Nabi Muhammad seorang mistikus tentu beliau tidak akan kembali lagi kebumi pada peristiwa Isra’ Mikraj. Karena pada saat itu beliau bertemu langsung dengan Allah. Dan pertemuan dengan Allah itulah puncak spritualitas dalam Islam.
Akan tetapi karena Muhammad adalah seorang pejuang kemanusiaan beliau kembali ke bumi untuk berjuang ditengah-tengah manusia, meskipun perjumpaan itu telah dicapai. Perjumpaan dengan Allah merupakan kenikmatan yang luar biasa dan berjuang di tengah masyarakat bukanlah hal yang mudah dan menyenangkan. Tetapi nabi lebih memilih itu.
Islam adalah agama yang ditujukan untuk memberikan rahmat bagi semesta alam. Tentunya kesalehan yang bersifat pribadi belum cukup. Maka ada kualifikasi lain dari aktivitas pribadi yang berimbas kepada pelaku dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Misalnya shalat, dengan shalat mampu menjadikan manusia merasa bahwa Allah selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari, tidak ada ketakutan selain ketakutan kepada Allah, merasa kuat karena merasa Allah melindunginya. Bahkan Allah sendiri mengecam orang yang melakukan shalat tetapi ia lupa akan hakekat shalat itu sendiri. Maka dengan demikian semakin baik shalat seseorang semakin baik amal sosialnya, semakin peka ia terhadap persoalan-persoalan dalam masyarakat.
Tidak sedikit ditemukan orang yang tampaknya punya kesalehan pribadi, yang amat memperhatikan hubungan dengan Allah SWT. Mereka rajin shalat termasuk yang sunnah, juga selalu puasa (termasuk puasa sunnah) dan pergi haji (mungkin beberapa kali) atau bahkan umrah, serta berzakat. Tetapi kalau ibadah ritual ini tidak digejewantahkan dalam praksis gerakan pemberdayaan masyarakat, belum tentu semua akan dirhidhai oleh Allah. Usaha untuk memperoleh posisi terdekat dengan Tuhan melalui berbagai bentuk dan laku ibadah ritual seharusnya tidak mengabaikan atau menindas sisi kemanusiaan dan kepentingan sosial. Doktrin ajaran islam bukan penting bagi manusia untuk menjemput kematian, namun untuk mengelola dunia ini sehingga manusia bisa mengembangkan kehidupan yang rahmah, berkah dan berkeadilan.
if (!document.layers)
document.write('')

Kehidupan sosial yang sudah mengglobal memberikan suatu efek yang menjerat, bak benang kusut yang tak kunjung terselesaikan. Tapi agama masih punya solusi terhadap kondisi masyarakat yang masih berada dibawah kemiskinan, anak-anak yang tidak mendapat kesempatan menikmati pendidikan, ketertindasan pekerja yang tidak kunjung dibayar haknya, dan lain sabagainya.
Agama menganjurkan umatnya untuk selalu melakukan ibadah ritual (hablun Minallah) guna mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun disamping itu ibadah ritual tersebut tidak hanya berhenti sampai disitu, harus diiringi dengan kepedulian terhadap manusia lainnya, sebagai corak yang mengejewantahkan (Hablun Minannas) sehingga tidak terjadi penindasan dan kesenjangan diantara manusia.






Baca Selanjutnya......

Kesalehan Sosial


Perilaku orang beragama justru buas terhadap sesamanya. Norma kesopanan telah pudar dalam sanubari bangsa ini. Seolah-olah kita telah kehilangan jati diri sebagai orang beragama, sebagai bangsa beragama, sebagai makhluk beriman. Karakter keimanan sebagai suatu substansi yang harus diraih, gagal kita bangun. Keimanan bukan untuk menyayangi makhluk lainnya, tetapi justru untuk membunuh, dengan segala macam cara.
Adakah yang salah dalam cara kita beragama, berbangsa, berperikehidupan? Mengapa bangsa kita hidup dalam ketidakberadaban karena membiarkan kekerasan demi kekerasan terus berlangsung tanpa ada usaha yang kuat untuk menghentikan praktik kekerasan itu sendiri? Sebagai bangsa yang beragama, bukan atheis, mengapa orientasi kehidupan kita hanya mampu mencetak manusia yang kerdil, haus kekuasaan, harta dan kemuliaan belaka?
Sebetulnya kita sedih menyimpulkan statement ini. Tapi kita tidak bisa mengelak bahwa sampai sejauh ini dalam kehidupan kebangsaan kita, kita sampai pada kesimpulan bahwa kehidupan keberagamaan kita telah gagal membangun sebuah karakter keimanan. Seolah-olah kesucian hanya dilihat di sekitar tempat ibadat, di luar itu orang boleh melakukan praktik yang berlawanan dengan keimanan.
Praktik keberagamaan hanya menampilkan wajah kontras antara kesucian individual dan kesalehan sosial. Kesucian individual ini tak kunjung berubah menjadi kesalehan sosial. Realitas agama hanya terjebak pada dimensi kesalehan pribadi yang berorientasi pada kesucian perorangan. Ukurannya hanya sekadar persembahan belaka, tetapi tidak mampu memperbarui perilaku sosial. Hal ini terjadi karena agama tidak mampu keluar dari persoalan identitas (logo) seperti di atas. Pemeluk agama masih terjebak pada persoalan kuantitas keimanan, bukan pada kualitas keimanannya. Agama hanya dihayati sekadar ritual belaka, tetapi dirinya terasing terhadap realitas kehidupan kemasyarakatan.
Agama jauh dari realitas kehidupan kemasyarakatan. Dia cenderung memikirkan dirinya sendiri dalam lingkup dogma, aturan dan legalitas. Dia tak mampu melihat realitas masyarakat yang mengalami penindasan, peme- rkosaan hak, dan penderitaan kaum tertindas yang termarginalisasikan oleh sistem pembangunan.
Agama gagal mempraktikkan iman yang memihak nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kesejahteraan. Mengapa agama bisa terasing dari realitas? Sebab hampir 40-an tahun agama dijadikan subordinasi politik Orba. Agama hanya dimengerti sebagai ritus belaka dan berorientasi pada dogma an sich. Dengan demikian pemeluknya pun sekadar beragama formal dan fanatis. Ini membuat pemeluk agama menjadi picik dan mudah dijadikan potensi konflik.
B. Pengertian Kesalehan
Islam bukan agama individual. Ajaran yang dibawa nabi Muhammad, memang dirancang untuk rahmat bagi semesta alam. Orang yang paling saleh pun demikian tak punya monopoli atas agama itu.
Banyak ditemukan ditengah-tengah masyarakat ada sekelompok orang yang tekun beribadah, bahkan berkali-kali haji, namun kelihatannya tidak memiliki respon positif terhadap kepentingan masyarakat umum, tak bergerak melihat saudara-saudaranya yang lemah tertindas, misalnya. Seolah-olah islam hanya mengajarkan orang untuk melakukan hal-hal yang dianggapnya menjadi hak Allah belaka. Namun sebaliknya sering juga dijumpai orang-orang Islam yang sangat peduli terhadap masalah kemaslahatan ummat, sangat memperhatikan hak sesamanya, suka membantu dan memiliki sikap sosial yang sangat baik akan tetapi kelihatan begitu mengabaikan “Ibadah Pribadinya” (hablun Minallah).
Berangkat dari fenomena diatas dapat dipahami bahwa hakekat dari sebuah kesalehan adalah suatu tindakan yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain, serta dilakukan atas kesadaran ketundukan pada ajaran Tuhan. Tindakan saleh sering disebut dalam kosa kata “amal saleh”, merupakan hasil keberimanan, pernyataan atau produk dari iman (percaya kepada Tuhan/Tauhid) seseorang dilakukan secara sadar.
Untuk selalu berada dalam komitmen kesalehan, perlu kiranya untuk mendudukkan konsekuensi Tauhid dalam kehidupan. Hal ini berawal dari, Pertama: Selaku orang yang mengakui ada suatu kekuatan besar yang berada diluar diri manusia (Allah), pertama-tama harus mengingkari apapun selain dari pada Allah. Kedua: setelah seorang yang bertauhid meniadakan apa-apa yang selain Allah. Kemudian ia berkeyakinan secara penuh kepada Allah. Maka dalam tauhid tingkat dua ini meyakini bahwa kebenaran hanyalah dari Allah. Ketiga: bahwa manusia Muslim mempunyai proklamasai atau deklarasi kehidupan yang dituntutkan al-quran sendiri, yaitu dengan kata qul, katakanlah wahai Muhammad, wahai pemeluk-pemeluk agama Muhammad. Jadi kita semua disuruh allah untuk selalu mendeklarasikan diri kita dengan kat-kata qul inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi Rabbil ‘alamin, la syarikalahu wabidzalika umirtu wa ana awwalul Muslimin. Deklarasi ini berlaku sepanjang hayatnya
Orang yang sudah mempunyai komitmen utuh kpada Tuhan, apalagi sudah mendeklarasikan kehidupan seperti itu, maka akan melihat dunia ini menjadi satu panggung kehidupan yang jelas, bening, mudah, tidak ruwet, karena kacamata tauhid. Keempat: setelah mendeklarasikan kalimah Tauhid, selanjutnya berusaha untuk menerjemahkan keyakinan menjadi tindakan konkret, suatu sikap budaya untuk mengembangkan amal saleh. Jadi iman dan amal saleh selalu bergandengan, hal ini bisa dilihat dalam al-Quran banyak sekali ayat yang selalu menggandeng antara alladzinaamanu dengan wa’amilush shalihat. Seolah-olah hampa dan kosong iman seseorang kalau tidak ada amal saleh yang menyertainya.
Karena itu Allah telah memberikan pengandaian yang sangat indah dalam sebuah ayat yang
Artinya: Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.(AL-HUDA; 259-260)

Manifestasi tauhid, deklarasi kehidupan dari tingkat keempat ini adalah sikap budaya, sikap mental, dan kehidupan untuk menyebar amal saleh dalam setiap kesempatan. Bahkan selaku orang yang beriman/bertauhid melihat arena kehidupan ini adalah arena amal saleh. Amal saleh itu ada yang berlevel pribadi, kolektif, masyarakat, bahkan tingkat nasional.
Tingkat kelima: orang yang bertauhid mengambil kriteria atau ukuran baik dan buruk, ukuran yang terpuji dan tercela atau terkutuk, kembali kepada tuntunan Ilahi.
Terdapat banyak ungkapan yang mengatakan bahwa kesalehan terdiri dari dua jenis yaitu kesalehan pribadi/ ritual dan kesalehan sosial. Antara dua kesalehan tersebut saling keterkaitan. Pertama: Kesalehan pribadi/ritual berkaitan dengan ibadah Mahdhah, yang mengatur hubungan makhluk dengan Sang maha Pencipta. Yang kedua: Berkaitan dengan ibadah Mu’amalah yang mengatur hubungan makhluk Allah SWT dengan makhluk lainnya.

C. Kesalehan Pribadi dan Kesalehan Sosial
Islam adalah agama yang memerdekakan, seluruh amal atau perbuatan yang tidak dilarang agama dan dilandasi dengan niat yang ihklas untuk memperoleh ridha Allah SWT adalah ibadah. Sebaliknya, perintah agama, tetapi dikerjakan bukan karena mendapat Ridha Allah tidak mempunyai nilai ibadah. Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya Al-Quran surat al-Ma’un:

Artinya: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
Al-Quran menyebutkan ada orang yang miskin, kaya, pandai, bodoh dan lain sebagainya. Itu sudah sunnatullah. Akan tetapi hak mereka sama dan tidak boleh ada eksploitasi dan kesenjangan yang menghampiri mereka. Tauhid mengutuk setiap fenomena eksploitasi dan kesenjangan yang makin melebar.
Fenomena ditengah umat dapat disaksikan sebagian besar pekerja (buruh) yang bekerja diperusahaan hidup dibawah garis kemiskinan. Sementara di lapisan yang lain (para elit) hidup dalam serba berkecukupan. Karena memang tidak bisa dipungkiri tujuan didirikan sebuah perusahaan pasti ingin mendapatkan keuntungan dalam jangka panjang atau berkelanjutan. Sebagai sebuah institusi bisnis maka perusahaan akan mencari berbagai cara dan strategi untuk bisa mempertahankan hidupnya. Itu alamiah dan memang sudah seharusnya.
Hal ini juga diperburuk oleh kondisi perusahaan yang mengahalalkan segala cara untuk tetap bisa hidup dan menumpuk keuntungan yang besar. Misalnya dengan cara mencemari lingkungan, menipu konsumen, mengurangi hak karyawan. Dalam jangka panjang sebenarnya praktik seperti ini akan merugikan perusahaan. Sebab akan muncul konflik dengan stakeholder (masyarakat, konsumen, dan pekerja) yang bisa mengancam kelangsungan hidup perusahaan tersebut.
Disamping itu ada hal yang tidak bisa ditolerir. Seperti pengiriman tenaga kerja wanita yang dikirim oleh pemerintah keluar negeri, merupakan contoh perbudakan modren yang canggih bagi orang yang melihat dengan pikiran yang jernih. Kaum wanita dikirim tanpa dilindungi oleh muhrimnya, masuk kerumah seorang majikan tanpa ada perlindungan apa-apa. Kalau dibandingkan dengan perbudakan pada zaman Rasulullah mereka diangkut dengan kereta, onta atau gerobak, tetapi sekarang diangkut memakai pesawat, dengan sistem pembayarannya pun memakai cek dan lain-lain.
Karena itu, prinsip tata kelola yang baik dalam setiap proses produksi dan menjaga serta menghormati stakeholder, sangat penting untuk diperhatikan dan dilaksanakan. Hal itu merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Untuk bisa menjalankan CSR dengan baik, maka setiap bagian dari perusahaan harus terlibat, dari mulai karyawan hingga direksi. Jika itu dilaksanakan dengan baik, maka lingkungan dan masyarakat tidak terganggu, konsumen dan pekerja mendapatkan hak-haknya dengan baik. Pada akhirnya antara lapisan pekerja dan lapisan elit tidak lagi berada dalam terzalimi dan menzalimi serta tertindas dan yang menindas. Sebab perusahaan perlu bertanggungjawab agar masa mendatang tetap ada manusia di bumi sehingga dunia harus tetap manusiawi untuk menjamin keberlangsungan kini dan hari esok.
Hal tersebut juga tidak sesuai dengan ajaran Islam yang selalu menjunjung tinggi keadilan dan menyalahi konsep fitrah selaku manusia yang memiliki akal dan hati. Lebih jauh dari itu diharapkan agama dalam pengertian kesadaran dan kelembagaan lebih menunjukkan komitmen moralitasnya pada masalah ketimpangan sosial. Kontribusinya harus merekonseptualisasikan beberapa pesan transedensinya yang lebih substansial. Al-Quran juga sangat memperhatikan nasib kaum dhu’afa’. Hal ini dijelaskan dalam surat al-Qashas ayat 5 yakni:

Artinya: Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi.

Nabi Muhammad sebagai suri tauladan yang baik, memiliki sikap kepemimpinan dan seluruh sikap hidupnya sangat merakyat. Dan sikap yang Islami itu sesungguhnya antifeodalisme. Ini jelas dalam surat al-Jum’ah ayat 2 yakni :

Artinya: Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Kehebatan beliau adalah memang beliau yang dilahirkan ditengah-tengah ummiyyin, umat yang banyak, massa yang banyak. Kemudian beliau memberikan bimbingan, membacakan ayat-ayat Illahi, mengeluarkan mereka dari keterbelakangan ke kemajuan sekalipun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan.
Nabi Muhammad telah telah banyak memberikan contoh bagaimana seseorang harus mengeluarkan zakat, bersedekah dan lain sebagainya, itu semua memiliki dasar dan tujuan tertentu. Sebagai umatnya tidak diperbolehkan meragukan akan ajarannya yang memperlihatkan kedua aspek kesalehan tersebut sekaligus. Dengan kata lain, zakat bagi kaum Muslim merupakan aplikasi Taqwa yaitu kepatuhan untuk berderma di jalan Allah dengan Ikhlas hanya mengharapakan ridha dari Allah, inilah sebenarnya kesalehan total yang mencakup kesalehan ritual dan kesalehan sosial.
Fazlur Rahman seorang intelektual muslim pernah menyatakan, seandainya Nabi Muhammad seorang mistikus tentu beliau tidak akan kembali lagi kebumi pada peristiwa Isra’ Mikraj. Karena pada saat itu beliau bertemu langsung dengan Allah. Dan pertemuan dengan Allah itulah puncak spritualitas dalam Islam.
Akan tetapi karena Muhammad adalah seorang pejuang kemanusiaan beliau kembali ke bumi untuk berjuang ditengah-tengah manusia, meskipun perjumpaan itu telah dicapai. Perjumpaan dengan Allah merupakan kenikmatan yang luar biasa dan berjuang di tengah masyarakat bukanlah hal yang mudah dan menyenangkan. Tetapi nabi lebih memilih itu.
Islam adalah agama yang ditujukan untuk memberikan rahmat bagi semesta alam. Tentunya kesalehan yang bersifat pribadi belum cukup. Maka ada kualifikasi lain dari aktivitas pribadi yang berimbas kepada pelaku dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Misalnya shalat, dengan shalat mampu menjadikan manusia merasa bahwa Allah selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari, tidak ada ketakutan selain ketakutan kepada Allah, merasa kuat karena merasa Allah melindunginya. Bahkan Allah sendiri mengecam orang yang melakukan shalat tetapi ia lupa akan hakekat shalat itu sendiri. Maka dengan demikian semakin baik shalat seseorang semakin baik amal sosialnya, semakin peka ia terhadap persoalan-persoalan dalam masyarakat.
Tidak sedikit ditemukan orang yang tampaknya punya kesalehan pribadi, yang amat memperhatikan hubungan dengan Allah SWT. Mereka rajin shalat termasuk yang sunnah, juga selalu puasa (termasuk puasa sunnah) dan pergi haji (mungkin beberapa kali) atau bahkan umrah, serta berzakat. Tetapi kalau ibadah ritual ini tidak digejewantahkan dalam praksis gerakan pemberdayaan masyarakat, belum tentu semua akan dirhidhai oleh Allah. Usaha untuk memperoleh posisi terdekat dengan Tuhan melalui berbagai bentuk dan laku ibadah ritual seharusnya tidak mengabaikan atau menindas sisi kemanusiaan dan kepentingan sosial. Doktrin ajaran islam bukan penting bagi manusia untuk menjemput kematian, namun untuk mengelola dunia ini sehingga manusia bisa mengembangkan kehidupan yang rahmah, berkah dan berkeadilan.
Kehidupan sosial yang sudah mengglobal memberikan suatu efek yang menjerat, bak benang kusut yang tak kunjung terselesaikan. Tapi agama masih punya solusi terhadap kondisi masyarakat yang masih berada dibawah kemiskinan, anak-anak yang tidak mendapat kesempatan menikmati pendidikan, ketertindasan pekerja yang tidak kunjung dibayar haknya, dan lain sabagainya.
Agama menganjurkan umatnya untuk selalu melakukan ibadah ritual (hablun Minallah) guna mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun disamping itu ibadah ritual tersebut tidak hanya berhenti sampai disitu, harus diiringi dengan kepedulian terhadap manusia lainnya, sebagai corak yang mengejewantahkan (Hablun Minannas) sehingga tidak terjadi penindasan dan kesenjangan diantara manusia.



Baca Selanjutnya......